Rabu, 22 April 2015

Senin, 20 April 2015

Dear you,

Ini hanyalah rentetan ucapan yang tak terungkap dari seorang pembual…

Saya benci dibohongi. Mengapa tidak jujur? Kebohongan adalah awal dari rasa sakit yang lambat laun akan tiba. Dia tidak mengerti nampaknya. Dia tidak akan pernah sadar, berbohong sama dengan menyakiti mereka, atau saya, yang bisa merasa.
Saya benci diinjak. Tak kunjung lelah kah dia, menginjak-injak saya? Bagaimana rasanya? Puas? Bahagiakah ia dengan menginjak saya yang telah hancur sedari awal? Dia belum pernah seperti saya, merasakan rasanya jatuh dan mencoba bangkit dari luka luka perih. Begitulah dengan seenaknya ia menginjak, melumat dan meludahkan saya.
Saya benci dikekang. Saya ingin menikmati dunia dan isinya, dan bajingan ini menutup semua ruang gerak saya. Rasanya sesak. Saya terhimpit, untuk bernafas saja saya tidak sanggup. Sakit. Saya ingin bergerak. Atau setidaknya, saya ingin merasa hidup.
Saya benci kesendirian. Saya ingin dirangkul, diperhatikan, dijaga, dicintai dengan tulus. Apapun yang setidaknya mampu memberikan saya secicip kebahagiaan.
Saya merindukan kehangatan. Saya rindu tidak didalam kekosongan. Mengapa ia menyekat saya? Saya ingin seperti yang lain, bergurau dengan riuh tawa lepas tak henti. Apakah saya hanya bisa mencicipinya didalam lelap, lalu kemudian terbangun tersadar bahwa semua hanyalah fatamorgana?
Saya benci disalahkan. Sebuah kesalahan kah jika saya menyampaikan apa yang saya rasakan? Sebuah kekeliruan kah untuk menciptakan angan? Apakah eksistensi saya adalah sesuatu yang tidak diinginkan? Saya takut, saya takut seperti ini terus dan mati karena tidak sanggup untuk bertahan. Ya, lebih baik saya menerima bahwa saya adalah sebuah kesalahan.
Saya benci dia, si brengsek yang mengatur sekeliling saya. Dia dengan jutaan sel dan syaraf yang bekerja 1x24 jam setiap harinya. Dia yang memiliki logika kehidupan yang begitu kejam. Dia yang menyadarkan saya bahwa saya hanyalah sebuah bualan. Dia yang mendoktrin sekeliling saya untuk hanya mengikutinya dan mengacuhkan saya. Dia yang menggerogoti kebahagiaan saya. Dia yang menjelaskan mengapa dunia saya penuh dengan kebodohan, kehancuran, keputus asaan, kekosongan dan hanya kesalahan.
Saya tidak pernah ada. Saya hanyalah sebongkah bualan.
Ya, saya si bodoh dan anda si jenius. Anda menang, dan selalu menang.

Dear brain, faithfully yours,
Heart.



Written by Sherlyhr, 22/12/12

Selasa, 07 April 2015

Gabut

When I feel bored, I make doodles.
When I feel sad, I make doodles.
When I feel happy, I make doodles.
When I feel like I want to make doodles, I'll be stuck and get nothing.

.....and this doodle was done when I am so bored.

Selasa, 17 Februari 2015

Congratulations, Sherly B.A Comm!


Thank you very much Mr. M. Raudy Gathmyr and Mrs. Baby Poernomo, MA my thesis advisers, I am so glad to have great lecturers and advisers like both of you. Thank you President University for the wonderful 3 and half years.

Sherly, B.A Comm